July 5, 2020

PKS SULTRA

BERKHIDMAT UNTUK RAKYAT

TERIMA APA ADANYA

oleh Ustadz @salimafillah. –

Di antara begitu banyak taujih Rabbani kepada Rasulullah ﷺ, ada sebuah ayat pendek yang menurut Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaalil Quran menghimpun akhlaq-akhlaq asasi yang harus dimiliki oleh para da’i dalam menghela bahtera dakwahnya di gelapnya lautan fitnah.

“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan kepada yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang jahil.” (QS Al A’raf: 199)

Fakhruddin Ar Razi dalam Tafsirnya mengutip Imam Ja’far Ash Shadiq yang mengatakan tentang firman Allah ini, “Tidak ada ayat-ayat Al Quran tentang makarimal akhlaq yang lebih luas maknanya daripada ayat ini.”

Dalam pembahasan balaghah, ayat ini sering dijadikan contoh yang sempurna untuk ijaz qishar.

“Ijaz adalah”, demikian menurut penulis Kitab Al Balaghatul Wadhihah, ‘Ali Al Jarim dan Musthafa Amin, “Mengumpulkan makna yang banyak lagi berlapis-lapis dalam kata-kata yang sedikit dengan jelas dan fasih.”

Ada dua jenis ijaz yakni qishar dan hadzf. Qishar maknanya peringkasan lafazh. Kalimatnya utuh namun pendek dengan tiap bagiannya mengandung makna yang berlipat dan bertingkat-tingkat. Adapun hadzf adalah membuang sebagian kata atau kalimat dengan syarat ada qoriinah yang menunjukan bahwa lafazh yang dibuang tersebut hakikatnya ada.

Di antara mufassirin, yang amat teliti menunjukkan betapa paripurnanya ijaz qishar di dalam Surat Al A’raaf ayat ke-199 ini adalah Al ‘Allamah ‘Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di, Guru Syaikh Al ‘Utsaimin dalam karyanya Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan.

Maka bagian pertama ayat ini “Khudzil ‘Afwa”, mencakup makna “Terimalah kaummu apa adanya, maklumilah kekurangan-kekurangan mereka, maafkan kesalahan-kesalahannya, jangan bicara pada mereka dengan apa yang belum mereka fahami, dan jangan bebani mereka dengan apa yang belum mereka sanggupi.”

Menerima kaumnya apa adanya adalah dengan tak berbanyak-banyak mengeluhkan keadaan, namun tetap melihat kondisi itu sebagai suatu kenyataan yang mungkin untuk diubah. Ianya bahkan diikuti upaya untuk memetakan secara cermat segala kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan. Rasulullah ﷺ memperhatikan dengan cermat siapakah yang terlebih dahulu mungkin untuk diajak kepada Tauhid beserta faktor-faktor yang akan memudahkan sampainya dakwah, dan beliau pula mengenali siapa-siapa yang berpotensi menjadi penentang dakwah.

Rasulullah ﷺ pun memaklumi kekurangan para sahabat dengan menjadikan segala ketaksempurnaan itu sebagai hal yang harus dikelola dengan baik dalam menata barisan dakwah, atau bahkan jika mungkin mensinergikannya menjadi kekuatan. Demikian pula beliau memaklumi kekurangan-kekurangan musuh, yang hal ini sangat membantu beliau untuk merumuskan strategi tabligh.

Beliau juga ditaujih untuk memaafkan kesalahan-kesalahan yang terjadi dari kaumnya bersebab kurangnya ilmu, dangkalnya pemahaman, dan sedikitnya pengalaman. Bersama berjalannya waktu, dengan tarbiyah yang baik, kesalahan-kesalahan itu akan menjadi pengalaman yang amat berharga untuk dipetik pelajarannya.

Rasulullah ﷺ juga memulai dakwahnya dengan perkara-perkara yang dimengerti oleh kaumnya. Wahyu pertama yang turun bahkan terlebih dahulu menyebut “Rabb” sebagaimana difahami bangsa Arab dan tak langsung mengenalkan Allah sebagai satu-satunya “Ilah”. Beliau juga memulainya dengan hal yang mampu dikerjakan oleh para sahabat; menyambung kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, para faqir, dan yatim, lalu mengimani Allah dan hari kemudian yang di sana segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Ketikapun mereka sudah memahami bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan bagi mereka, tiada sekutu bagiNya; berhala-berhala kaum ‘Arab yang tegak kukuh di sekitar Ka’bah bukan langsung dihancurkan sebab perubahan jiwa jauh lebih penting dari perubahan lahiriah. Barulah di tahun ke-21 dari dakwah beliau, setelah hati penduduk Makkah diinsyafkan, patung-patung itu dihancurkan bahkan oleh tangan-tangan yang semula memujanya.

Adapun bagian kedua dari ayat yang sungguh jawami’ul kalim, ringkas namun padat maknanya ini, “Wa’mur bil ‘Urfi”, meliputi arti “Jadilah engkau Imam dalam perkara-perkara yang kebaikannya telah dikenal oleh akal sehat manusia, agar engkau dapat memimpin mereka menuju kebaikan yang hanya dari Allah-lah tata aturannya.”

Secara garis besar, kebajikan dibagi menjadi dua menurut asal timbangannya. Pertama, Al ‘Urf atau Al Ma’ruf adalah kebajikan yang seluruh akal sehat manusia mengenal dan mengakui bahwa ia adalah baik. Jujur, adil, amanah, tepat janji, disiplin, dermawan, tawadhu’, tekun, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, menyantuni para faqir, merawat anak yatim, dan sebagainya adalah Al Ma’ruf.

Yang kedua adalah Al Khair, yang di sana mencakup segala kebaikan yang ditetapkan oleh Allah sebagai bagian khusus dari pengabdian kepadaNya. Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, menunaikan shalat, zakat, puasa, serta haji sesuai dengan syarat, rukun, wajib, sunnah-sunnahnya serta mengenal pembatalnya adalah bagian dari Al Khair.

Kedua hal ini diisyaratkan oleh firman Allah berikut.

“Dan hendaklah ada segolongan di antara kalian, satu kumpulan manusia yang mengajak kepada hal-hal yang baik (khair), memerintahkan kepada yang ma’ruf, serta mencegah dari perbuatan munkar. Dan yang demikian itu adalah golongan yang akan beruntung.” (QS Ali ‘Imran [3]: 104)

Dalam ayat ini, arahan Allah tentang “Al Khair” adalah agar diserukan, dianjurkan, dihimbaukan, diajakkan. Sebab ukurannya dari sisi Allah, dakwah kepadanya haruslah bertahap dan berderajat-derajat. Memaksakan bagian “Al Khair” yang mahdhah ini hanya akan menyuburkan kemunafikan. Adapun “Al Ma’ruf” dapatlah diperintahkan, diundangkan, bahkan diatur dan dipaksakan agar pelaksanaannya maksimal. Mereka yang melanggar kejujuran, keadilan, kedisiplinan, serta hak-hak kaum membutuhkan dapat pula dipidanakan.

Adalah Rasulullah ﷺ orang yang paling dikenal kepeloporannya dalam kebajikan-kebajikan yang ma’ruf di antara kaumnya, sehingga dengan begitu pula beliaulah orang yang paling layak untuk mengajak manusia pada hal-hal yang khair sifatnya; mengesakan Allah, mendirikan shalat, menunaikan puasa, haji, dan lainnya.

Sedang bagian ketiga, “Wa A’ridh ‘anil Jahilin”, mengandung pengertian “Diamkanlah mereka, ucapkanlah “Salaamaa” jika mereka mengajak berbicara, berlalulah dari mereka dengan cara yang mulia, balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.”

Ya Allah, susurkan dan susulkan kami di jalan dakwah beliau ﷺ. Gambar Kota Makkah jelang fajar, dari atas Gua Hira dan Jabal Nur.